BAGANSIAPIAPI | RADARGEP.COM – Saya ini masyarakat Rokan Hilir pak, anak saya lima orang lahir disini. Tapi kenapa diperlakukan tidak adil seperti ini? Saya sudah diberi izin sama pihak BSI untuk memakai area kantor mereka berdagang. Dagangan saya tidak memakan badan jalan. Padahal bapak lihat sendiri, disana (arah taman kota) dan sekitar sini juga banyak pedagang seperti saya. Tapi kenapa hanya saya saja yang diginikan?” teriak Jumida (43) pedagang buah di Bagansiapiapi dihadapan petugas Satpol PP yang ingin mengamankan dagangannya, Selasa (7/7).
Sambil menahan tangis dan keringat dingin, Jumida terus membagikan lebih kurang 3 ton Semangka segar yang baru ia ambil kepada warga yang melintas didepan lokasi ia berjualan.
Hal ini ia lakukan sebagai bentuk protes akan sikap Satpol PP yang dinilai tidak adil dan terkesan pilih kasih.
“Daripada buah buah ini diangkut Satpol PP, yang ada nanti pasti rusak kak. Saya lebih ikhlas jika masyarakat yang menikmatinya. Dengan kondisi tetap segar. Biar nanti Tuhan yang balas semuanya kak. Semoga buah buah ini bermanfaat bagi masyarakat yang menerima nya. Lebih baik seperti ini kak, dibandingkan mereka (Satpol PP) bawa,” terangnya kepada awak media.
Tak hanya Semangka buah buah lain yang ia jual pun turut dibagikan seperti salak, Manggis, Sunkist hingga buahan segar lainnya. Jumida mengaku lebih baik merugi hampir 35 jutaan daripada merugi hanya karena Satpol PP yang menerapkan aturan yang tidak pas.
“Sekarang dimana letak salah saya? Saya tidak pernah memakan badan jalan. Atas izin pihak bank, karena saya salah satu nasabah mereka, makanya saya diberikan akses untuk menggunakan area sekitar kantornya untuk berjualan. Tapi Satpol PP tetap ngotot untuk membawa dagangan saya. Ini ada apa? Dari 2016 saya berjualan buah, baru kali ini diperlakukan seperti ini. Bupati sebelumnya tak pernah menyakiti kami para pedagang, seperti kepemimpinan Bupati saat ini,” terangnya.
Bahkan kepada Bupati Bistamam ia meminta jangan lagi ada pedagang yang menjadi korban seperti dirinya.
“Kami hanya mencari makan dirumah kami sendiri. Tapi kami di gusur seperti ini. Kami sudah sepakat untuk pindah, tapi kemana? Tak ada tempat yang layak. Disinipun kami tak mengganggu ketertiban sekitar. Kami ikuti aturan, sampah pun kami sudah bayar setiap bulan dan tak pernah berserak. Anak saya lima sekolah, dari dagangan ini lah kami mencukupi semuanya,” paparnya.
Kata Jumida, tak pernah ada pemberitahuan sebelumya. Tiba tiba pagi ini Satpol PP sudah datang ketempat ia berjualan. Tepatnya di teras samping Bank Syariah Indonesia. Lokasi tersebut tidak bersentuhan langsung dengan badan jalan, karena dipisah oleh selokan.
Bahkan saat proses tersebut berlangsung, pihak bank keluar untuk memberikan penjelasan kepada satpol PP. Sayangnya, dari video yang beredar, pihak satpol PP seolah tak mau mendengar penjelasan pihak bank yang menjelaskan jika lokasi yang digunakan oleh Jumida merupakan wilayah mereka dan sudah memberikan izin.(ss>)














