PEKANBARU | RADARGEP.COM – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Kabupaten Kepulauan Meranti, dorongan agar sejarah pembentukan daerah otonom tersebut didokumentasikan dalam bentuk buku semakin menguat.
Mantan Ketua DPRD Provinsi Riau periode 2008, H. Sofyan Hamzah, B.A., menyatakan dukungan penuh terhadap rencana penerbitan buku sejarah perjuangan lahirnya Kabupaten Kepulauan Meranti. Ia mengaku prihatin karena hingga hampir dua dekade berdiri, belum ada buku resmi yang mengabadikan perjalanan panjang pembentukan kabupaten tersebut.
“Sudah hampir 18 tahun Meranti berdiri, namun pemerintah daerah belum menerbitkan buku sejarah perjuangan lahirnya daerah ini,” ujarnya saat dihubungi melalui aplikasi perpesanan, Sabtu (8/8).
Menurut Sofyan, gagasan tersebut kembali mengemuka setelah dirinya dihubungi oleh Ramlan, S.H., CPLA., salah seorang tokoh perjuangan pembentukan Kabupaten Kepulauan Meranti sekaligus penggagas Meranti Center Jakarta. Ramlan mengirimkan kerangka awal penulisan sejarah yang kemudian mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan.
Sofyan menilai penerbitan buku tersebut mendesak dilakukan mengingat sebagian besar pelaku sejarah kini telah berusia lanjut.
“Saya sangat mendesak agar buku ini segera diterbitkan, mumpung para pelaku sejarahnya masih ada. Sejarah lahirnya Meranti sangat penting diwariskan kepada anak cucu kita, bahwa daerah ini lahir bukan sekadar pemberian, melainkan buah perjuangan panjang yang berlangsung lebih dari setengah abad,” tegasnya.
Berawal dari Kegelisahan Para Pejuang
Gagasan penyusunan buku ini bermula dari diskusi di lingkungan kerukunan keluarga besar pejuang. Ramlan mengungkapkan bahwa ketiadaan dokumentasi utuh mengenai proses pembentukan kabupaten memicu dirinya berkoordinasi dengan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepulauan Meranti, Wira, serta berkonsultasi dengan pihak penerbit.
Bersama tim, mereka menyusun kerangka penulisan yang merekam perjalanan perjuangan sejak 1957 hingga pengesahan daerah otonom pada 2008. Buku tersebut sementara mengusung judul Setengah Abad Memperjuangkan Lahirnya Kabupaten Kepulauan Meranti.
Untuk menyempurnakan naskah, para penggagas berencana menggelar seminar bedah sejarah yang melibatkan simpul-simpul perjuangan dari berbagai daerah, seperti BP2KM Selatpanjang, BP2KM Riau di Pekanbaru, serta ikatan keluarga besar di Batam, Karimun, Tanjungpinang, Dumai, Siak, hingga Jakarta.
“Tujuannya agar saat buku terbit kelak tidak ada pihak yang merasa dirugikan atau perannya terabaikan. Kita akan menyajikan bukti-bukti sejarah selengkap dan sejujur mungkin,” jelas Ramlan.
Dukungan Lintas Wilayah
Rencana penulisan sejarah ini disambut baik oleh berbagai elemen masyarakat dan tokoh pejuang. Sekretaris Jenderal BP2KM, Falzan Surahman, menilai perjalanan panjang pembentukan Meranti yang dirintis sejak 1957 sangat layak diabadikan sebagai warisan sejarah.
Dukungan serupa datang dari tokoh masyarakat Meranti di Pekanbaru, Hajah Jahlela Wati, S.H., serta Ketua Umum Meranti Center Jakarta, Firdaus Muchtar Jamil, yang menyatakan siap menyerahkan dokumen dan arsip sejarah guna memperkaya materi buku.
Para tokoh berharap seminar bedah sejarah dapat dilaksanakan bertepatan dengan rangkaian HUT ke-18 Kabupaten Kepulauan Meranti di Selatpanjang, sehingga menjadi momentum silaturahmi bagi seluruh pelaku dan simpul perjuangan dari berbagai daerah.
(**/Hentino)














